<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109</id><updated>2012-02-16T19:43:13.791-08:00</updated><title type='text'>YUSRILTEATER</title><subtitle type='html'>kami ada pada garis lurus hitam yang teramat panjang</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-4659955947201395832</id><published>2009-02-13T10:51:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T11:10:30.971-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;                                   (4 April 2008)&lt;/span&gt;                                  &lt;/h3&gt;                                                   &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Saat Rutinitas Mengepung Hidup Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Lama sekali aku tertidur, aku rasa sudah bertahun -tahun. Aku masih ingat, 31 Desember kemarin aku masih sempat terjaga dan terkejut oleh kerumunan manusia. Mereka membakar kembang api dan meniup terompet, dengan gembiranya, manusia sedunia merayakan satu umurnya pada tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Dedi Darmadi, aktor kelompok teater Hitam Putih, berdiri di sisi tempat tidur di tengah panggung. Sebuah jam yang tergambar samar di dinding "kamar", menggerakkan jarumnya, berputar mengikut perjalanan waktu ke waktu. Cahaya menyiram persis ke sentral panggung, tempat si aktor mulai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;  bermonolog. Tiba-tiba, dia jumpalitan ke lantai yang penuh dengan tepung putih, kontras dengan suasana panggung yang mencekam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Tak lama, 3 aktor lain (yang menurut Sutradaranya, Yusril, mereka adalah satu yakni tokoh itu sendiri), yang diperankan oleh Hasan, Andi dan Tomi, muncul dari belakang panggung, membawa payung hitam. Di sini, naskah monolog "Tak Ada Sabtu Sampai Minggu, Hanya Siang dan Malam" milik pemenang sayembara penulisan naskah monolog se Indonesia milik Rozaky,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; yang dimainkan kelompok Teater Hitam Putih dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Padang Panjang berubah menjadi permainan kata saling sahut menyahut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Cerita yang bertutur  tentang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; "memuakkannya" sebuah kehidupan yang penuh rutinitas dibangun secara apik oleh ke empat pemain yang tampil dengan bertelanjang dada. Mereka berteriak lantang, bergantian, menghujat waktu, menghujat hari-hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; "Tidak usah ada 7 hari, 5 hari atau 2 hari dalam seminggu. Hanya ada siang dan malam..." ujar ke tiga tokoh "pendamping" itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; "Hari tidak milik anak sekolah, hari tidak milik orang-orang berdasi, hari bukan milik siapapun. Kita harus mengatur waktu bukan waktu mengatur kita..." sambung mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Apa yang ditampilkan teater Hitam Putih ini menurut Yusril, merupakan satu bentuk keprihatinan terhadap betapa manusia sekarang ini sudah terjebak oleh sebuah rutinitas yang membuat kehidupan itu sendiri menjadi membosankan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; "Manusia sudah salah menafsirkan waktu. Kita bergembira saat ulang tahun ataupun pada tahun baru. Padahal esensinya, saat itu usia kita sudah berkurang, dan kita semakin renta," ujar staf pengajar di STSI Padang Panjang ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Sebelum Hitam Putih, tampil sebagai pembuka pada acara malam ke enam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; RAAF dan TSS-2008 di Rumahitam adalah Kelompok seni Intro dari Payakumbuh. Mereka naik ke atas panggung dengan mengusung musikalisasi puisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Suara Iyut Fitra, penyair muda berbakat asal Payakumbuh terdengar berkarakter, di tengah-tengah iringan musik. Begitu pun dengan Aulia, satu-satunya perempuan di kelompok ini yang dengan suara beningnya mampu menghadirkan suasana berbeda saat melantunkan bait-bait puisi milik Gus tf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;  Sakai berjudul Keranda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Sementara, Penyair Hasan Aspahani yang tampil berikutnya, mencoba memberi pelajaran kepada yang hadir malam tadi dengan konsep puisi digitalnya. Meski di kancah kepenyairan saat ini, puisi digital (puisi cyber) mulai memiliki komunitas, setelah munculnya komunitas cybersastra yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;  tumbuh dari dunia maya (internet), namun apa yang dibawakan Hasan terkesan "kurang bernyawa".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Wajar, mungkin Hasan lupa, siapa yang tengah menyaksikannya. Malam itu, mayoritas dari ratusan penonton yang hadir adalah terdiri dari kaum ibu-ibu serta masyarakat umum. Lain halnya jika puisi digital miliknya yang bertajuk "Siapkah Kita" itu dimainkan di depan seniman-seniman yang sudah "melek" teknologi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; "Saya memang hanya ingin mengenalkan apa itu puisi digital kepada semua kita yang ada di sini. Puisi digital, memang hanya bisa dinikmati di komputer (laptop)," tukas Hasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Pementasan lainnya, sebuah tari "Seligi Tajam Bertimbal" yang dibawakan Grup Leksamana, Pekan Baru. Tarian yang dikoreografero oleh SPN. Iwan Irawan Permadi ini bercerita tentang suasana batin yang diterkam dendam cinta segitiga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Adalah, Wan Sinari dan Wan Inta, dua bersaudara kakak beradik di sebuah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; kerajaan. Wan Sinari sangat mencintai Raja Laksemana, tetapi Raja Laksemana malah meilih Wan Inta untuk dijadikan istrinya (permaisuri). Wan Sinari lalu patah hati dan kemudian timbul rasa dendam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; "Nilai yang tersimpan dari kisah ini, makin tinggi rasa cemburu dalam diri seorang perempuan, makin tinggi pula nilai keperempuanannya," kata Iwan.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-4659955947201395832?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/4659955947201395832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=4659955947201395832' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/4659955947201395832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/4659955947201395832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2009/02/4-april-2008-saat-rutinitas-mengepung.html' title=''/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-1561648885140668639</id><published>2009-02-13T10:50:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T10:51:39.893-08:00</updated><title type='text'>MENUJU TANGGA KEKUASAAN:</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Asril Muchtar&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;di timur matahari akan terbit&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;kawanan orang-orang bergerombolan itu bertemu pendakian, kita, setumpak pencarian gaduh dalam zikir. tasbih air mata menuju langit, puncak dari waktu &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;terjemahkanlah, wahai, beku batu-batu. siapa memancang istana di udara jauh memancang singgasana di tinggi labirin&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;dan kawanan orang-orang bergerombolan, kita, saling sikut berebut tempat&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;mencari arah matahari. atau di mana bulan jatuh&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;“sorga” kau dengar sayat itu?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;gelombang nada membakar tanah-tanah. meluap darah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;di padang-padang hampar. kitalah &lt;span&gt; &lt;/span&gt;para penunggang berpedang&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;menebas jalan-jalan &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;menebas harapan &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;di timur matahari akan terbit&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;di timur matahari akan terbit&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 255, 255);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Sepenggal&lt;span&gt; &lt;/span&gt;petikan puisi&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Tangga&lt;/em&gt; di atas, yang ditulis oleh Iyut Fitra, penyair yang berdomisili di kota Payakumbuh, Sumatra Barat ini, menjadi teks-teks dialog para pemain dalam&lt;span&gt; &lt;/span&gt;pertunjukan teater&lt;span&gt; &lt;/span&gt;karya Yusril “Katil”. Karya Dengan judul yang sama, &lt;em&gt;Tangga,&lt;/em&gt; ini merupakan karya kolaboratif yang melibat seniman teater, tari, dan musik dari STSI Padangpanjang serta penyair Sumatra Barat. Gagasan karya terispirasi dari percaturan kekuasaan dengan bingkai&lt;span&gt; &lt;/span&gt;“demokrasi” ala Minangkabau ditafsir dengan situasi kekinian yang lebih universal. Akting dan gerakan para pemain merupakan kombinasi eksplorasi gerak (tarian) yang ditata oleh Syaiful Erman (STSI) dengan tata laku yang diarahkan langsung oleh Katil sebagai sutradara, sedangkan ilustrasi musik dikomandani oleh Elizar &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Koto (STSI). &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;Ini merupakan karya teater eksploratif, yang sangat sarat dengan simbol, tetapi minim kata-kata, mengusung sembilan buah tangga sebagai propertinya. Karya yang melibatkan sembilan pemain yang terdiri dari tiga orang penari dan enam orang pemain teater, telah dipentaskan di gedung pertunjukan Hoerijah Adam STSI Padangpanjang, 13/11/2007. Dan juga dipentaskan pada Festival Kesenian Indonesia (FKI) V di ISI Denpasar pada 21-25 November 2007. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Eksplorasi Tangga&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;Paling tidak ada delapan konfigurasi-formasi atau “adegan” yang disajikan dalam karya ini. Formasi awal ditandai dengan pemunculan penari laki-laki (Cecep) dengan kostum Minang (ala datuk) menari dengan gerak-gerak eksloratif berbasis silat, sambil memikul tangga sepanjang tiga setengah meter di sisi kiri depan pentas. Ia kemudian memindahkan tangga itu ke punggungnya sambil membungkuk. Sementara di bagian tengah depan pentas, Sarah (Ayu Shahira, mahasiswa STSI asal Kuala Lumpur) dengan kostum merah menyala, melakukan gerak-gerak eksplorasi&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dengan ruang gerak yang cenderung lebar. Ketika melihat Cecep membaringkan tangga di punggungnya, Sarah berlari dan naik sembari berbaring menelentang di atas tangga itu. Di bawah cahaya lampu yang redup dan musik yang lirih, Cecep terhuyung-huyung melakukan berbagai gerakan dan diakhiri dengan gerakan berputar-putar. Tak sepatah kata pun dialog yang muncul dari mereka. Bagian ini semacam satire bagi perempuan Minangkabau yang dimuliakan, tapi berkuasa seperti wanita besi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;Selanjutnya sembilan tangga disandarkan berjejer di dinding pentas bagian belakang. Diperkuat dengan latar visual art, semua pemain dengan kostum merah, berdiri di puncak tangga, kemudian perlahan-lahan mereka menuruni anak tangga. Beberapa penggal kata mereka ucapkan dengan minim. Kemudian mereka menapaki setiap anak tangga untuk turun dan naik serta berpindah dari satu tangga ke tangga yang lain dengan intensitas kian lama makin cepat. Perebutan tempat ini, memunculkan benturan kepentingan, bahkan juga fisik–saling menyikut. Agaknya dialog lebih terekspresikan melalui simbol movement mereka, ketimbang bahasa verbal. Perjuangan mencari tangga (kendaraan) menuju tangga kekuasaan, mesti dilakukan dengan berbagai cara.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Bagian yang cukup menarik dicatat agaknya konfigurasi-formasi tiga dan empat. Katil mencoba menonjolkan perempuan di atas “singgasana kekuasaan.” Eksplorasi enam buah tangga yang ditegakkan dengan membentuk formasi tiga buah segi tiga sama kaki berjejer diagonal ke kiri pentas. Masing-masing tangga dipegang oleh seorang pemain. Sementara pemain (Indah) menaiki tangga, mulai dari tangga belakang sampai ke tangga depan. Di puncak tangga ia berdiri mengepakkan tangan dan melakukan gerak-gerak ekplorasi sambil mengucapkan teks-teks singkat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;Dengan formasi tangga yang dibentuk seperti menara, seorang penari (Rani) menaiki tangga dan berdiri di puncaknya. Gerak-geraknya cukup berani dan menantang (bahaya). Kemudian ia meluncur turun masuk dalam “perangkap” menara. Tangga direbahkan, ia teperangkap dan terikat dalam tangga. Tak ada sepatah kata pun yang terucap.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;Lewat kedua tokoh perempuan itu, agaknya Katil menyindir&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;demokrasi ala Minangkabau dan sistem kekerabatan matrilineal yang memuliakan dan menonjolkan perempuan. Dalam konteks kekinian dan dikaitkan dengan sistem laras &lt;em&gt;bodi caniago&lt;/em&gt; (Ketumanggungan) yang memakai keputusan berdasarkan musyawarah di tingkat bawah, dan &lt;em&gt;koto piliang&lt;/em&gt; (Perpatih Nan Sabatang) yang menerapkan keputusan berada di tinggkat pimpinan), sudah tidak dianut lagi secara tegas terpisah oleh masyarakat Minangkabau. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;Yang tak kalah menarik adalah eksplorasi yang dilakukan oleh seluruh pemain dengan mengusung tangga menjelajahi setiap lini pentas. Mereka berlari mencari ruang kosong dan mengisinya silih berganti. Tampak ketegangan dan kesembrautan berpadu dengan ekspresi menyeringai di wajah mereka. Eksplorasi ini dilanjutkan dengan menghentakkan tangga ke lantai sambil membentuk lingkaran. Seolah-olah mereka terkerangkeng dalam jeruji medium mencari kekuasaan. Lalu mereka menjatuhkan tangga masing-masing ke lantai. Tampak bagaikan kelopak-kelopak bunga berguguran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Tergerusnya Budaya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Sebagai penutup, eksplorasi tangga seperti membentuk replika &lt;em&gt;rumah gadang. &lt;/em&gt;Dengan latar belakang visual art yang digarap oleh Dede Pramayoza, para pemain duduk dan berdiri di atas dan di bawah &lt;em&gt;rumah gadang&lt;/em&gt;. Sarah menuruni tangga dengan eksplorasi-eksplorasi gerak yang dipadu dengan beberapa gerak tari piring tradisi Minang. Ia bergerak ke depan di atas dua buah tangga yang direbahkan memanjang ke arah depan. Sementara di tengah tangga itu terletak sebuah &lt;em&gt;carano &lt;/em&gt;sebagai simbol ketulusan hati dan pendamai dalam berbagai kegiatan adat di Minangkabau.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Carano &lt;/em&gt;yang biasanya diisi dengan daun sirih dan buah pinang, kali ini diganti dengan ratusan permen, diangkat oleh Sarah dan dibagi-bagikannya kepada para penonton. Ini benar-benar sebuah simbol tergerusnya budaya oleh berbagai kepentingan (terutama politik).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Karya yang berdurasi sekitar 55 menit ini, sejatinya memiliki etika konvensional. Seperti ungkapan “&lt;/span&gt;&lt;em style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;bajanjang naiak batanggo turun”. &lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Segala sesuatunya sudah ada aturan dan tata caranya. Akan tetapi benturan muncul ketika situasi kekinian tidak lagi tertampung dalam koridor adat. Bagaimanapun Katil dan kawan-kawan telah menyajikan sebuah penawaran sajian teater kolaborasi yang berimbang (Gong, edisi 96/2007).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;(Untuk mempresentasikan itu, Katil lebih memilih bahasa simbolik melalui eksplorasi gerak, musik, dan tangga yang bersifat multi tafsir serta memberikan makna lebih luas, ketimbang bahasa verbal. Meskipun ia sebenarnya sudah berupaya menghadirkan penggalan kata atau kalimat. Tetapi itupun masih perlu ditafsir karena teks verbal yang muncul berasal dari puisi. Akhirnya teks dialog sering diabaikan oleh penonton. Katil bahkan sengaja memilah peran pemain. Kepada para penari misalnya, sedapat mungkin mereka tidak diberi kesempatan berkata-kata. Sebagai sebuah pertunjukan, Katil dan kawan-kawan telah menyajikan sebuah penawaran sajian teater kolaborasi yang telah berimbang). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;Padangpanjang, 19 November 2007&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;Asril Muchtar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span&gt;Staf Pengajar STSI Padangpanjang, pemerhati seni pertunjukan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-1561648885140668639?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/1561648885140668639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=1561648885140668639' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/1561648885140668639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/1561648885140668639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2009/02/menuju-tangga-kekuasaan.html' title='MENUJU TANGGA KEKUASAAN:'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-6236348154773242325</id><published>2009-02-13T10:47:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T10:50:03.574-08:00</updated><title type='text'>MUSIM KEMATIAN BUNGA:</title><content type='html'>&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Asril Muchtar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Malam itu cuaca begitu cerah. Tanda-tanda itu sudah kelihatan sejak siang hingga sore harinya. Langit biru. Tak tampak seonggok awan pun menggantung di angkasa. Padahal beberapa hari sebelumnya Padang diguyur hujan. Inilah barangkali keberpihakan alam kepada Yusril “Katil”, teaterawan dan sineas muda Sumatra Barat, yang juga dosen STSI Padangpanjang. Pada malam (25/6/2006), ia menayangkan karya filmnya, “Musim Kematian Bunga” di Teater Tertutup Taman Budaya Padang. Gedung yang tidak begitu besar itu, dipenuhi oleh kalangan seniman terutama, dan oleh sejumlah mahasiswa. Juga&lt;span&gt; &lt;/span&gt;turut hadir Prof Dr Rahayu Supanggah dan Dr Waridi, yang bertindak sebagai penguji. Film ini memang disiapkan sebagai tugas akhir Studi S2 Penciptaan Film di STSI Surakarta. Sebelum penayangan film, terlebih dulu diawali dengan pembacaan puisi “Musim Kematian Bunga” oleh Iyut Fitra dan Risa yang sangat ekspresif sekali. Secara tidak langsung keduanya telah menjadi simbol personifikasi “musim” dan “bunga”.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Film ini merupakan transformasi dari puisi dengan judul yang sama, “Musim Kematian Bunga”, karya Iyut Fitra, penyair Indonesia yang berasal dari Payakumbuh Sumatra Barat. Puisi itu bercerita tentang cinta seorang penyair terhadap seorang perempuan yang berbeda kepercayaan (Islam dan Kristen). Perbedaan ini akhirnya menjadi konflik, dan menyebabkan keduanya menjadi berpisah dan tidak bahagia. Musim dan bunga dalam realitasnya adalah dua entitas alam. Bunga bergantung pada ruang dan waktu (pergantian musim). Tetapi puisi itu diinterpretasikan kembali oleh Katil. Konflik tidak hanya pada perbedaan keyakinan, tetapi juga pada realitas sosial. Pergaulan dalam lingkungan Minangkabau, dewasa ini disinyalir tidak lagi mencerminkan budaya Minangkabau. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Musim diperankan oleh Wendi (alumni jurusan teater ISI Yogyakarta). Ia berperan sebagai seorang penyair Sumatra Barat yang islami. Sementara Bunga diperankan oleh Reni Candra, mahasiswa jurusan tari STSI Padangpanjang. Reni memerankan tokoh Bunga yang kristiani, modern, dan berpenampilan orang kota. Dengan latar belakang penari, tokoh Bunga dimunculkan sebagai seorang koreografer, yang berpentas di berbagai tempat dan &lt;em&gt;event&lt;/em&gt;, khususnya di Taman Budaya Padang.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Dalam menunjang kreativitas kepenyairannya, Musim membentuk komunitas sastra yang menekuni penulisan puisi, dan bermain teater. Salah seorang anggotanya Hati, yang diperankan oleh Nora mahasiswa jurusan musik STSI Padangpanjang, sangat tekun mendalami puisi.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Nora, secara diam-diam ternyata menaruh simpati yang dalam terhadap Musim, tetapi Musim meresponnya sebatas muridnya saja. Pemunculan identitas koreografer dan Hati, merupakan pengembangan naskah dari teks asli puisi oleh Katil.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pertemuan Musim dan Bunga yang cukup berkesan, saat Bunga pentas tunggal koreografinya di Taman Budaya Padang. Kepiawaian Bunga menari dan keelokan koreografinya, memberikan decak kagum bagi Musim. Usai pentas, Musim mendekati Bunga dan memberikan ucapan selamat, sembari mengucapkan kata-kata yang penuh puitis dan filosofis. Ungkapan ini menggugah perasaan Bunga, sehingga berlanjut pada diskusi-diskusi yang makin intens di antara mereka. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pertemuan mereka ini hampir tidak menyisakan waktu buat Hati. Hati seperti kehilangan sesuatu, tetapi ia tidak mau mengungkapkannya. Kekecewaan, kerinduan, dan kesedihannya sering diungkapkannya melalui puisi dan bermain harmonika dengan melodi yang sentimental. Itu ia lakukan berulangkali, sepanjang suasana hatinya tidak nyaman. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Musim dan Bunga makin bersemi. Laksana kuncup bermekaran di musim semi. Ketika situasi ini mereka nikmati, justru benturan-benturan mulai muncul. Hubungan Bunga dengan Musim diketahui oleh bapaknya. Bunga dilarang berhubungan dengan Musim, karena tidak seiman. Sementara Musim mulai goyah dengan identitasnya yang islami dan Minangkabau. Komunitasnya mencium gelagat Musim, tapi apa daya ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Bunga.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Akibat tidak konsisten dengan pendirian dan sikap masing-masing, pilihan mereka ternyata berakibat fatal. Kepenyairan Musim ditinggalkan teman dan sahabatnya. Pentas baca puisinya tidak lagi ditonton. Ia menjadi frustasi dalam kesendiriannya dan meninggal dengan tragis. Sementara Bunga, yang minggat dari orang tua atas kekecewaannya, pergi tidak tentu arah. Menggelandang kian kemari. Ia kehilangan jati diri sebagai seorang koreografer, dan frustrasi dalam ketidakberdayaan. Hati dengan ketegaran hatinya, meneruskan karirnya sebagai penulis puisi.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Film yang berdurasi sekitar 80 menit ini, mengambil &lt;em&gt;setting&lt;/em&gt; lokasi Payakumbuh, Bukittinggi, Padangpanjang, dan Padang (Taman Budaya). Untuk kalangan masyarakat awam, film ini memang absurd sekali. Film, sebagaimana lazimnya bersifat naratif. Dialog-dialog yang dibangun bersifat natural dan realis, dalam bahasa keseharian. Tidak sulit untuk dipahami. Berbeda dengan film Musim Kematian Bunga, dialog-dialog yang disampaikan oleh aktor dan aktrisnya sangat puitis. Sedikit sekali yang disampaikan dalam bahasa yang natural dan realis. Memang konsep inilah yang ditawarkan oleh Katil. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Sebagaimana ia katakan: “Puisi diciptakan dalam suasana perasaan intens yang menuntut pengucapan jiwa yang spontan dan padat. Menghadapi puisi, kita tidak hanya berhadapan dengan unsur kebahasaan yang meliputi serangkaian kata-kata indah, namun merupakan satu kesatuan bentuk pemikiran atau struktur makna yang hendak diucapkan oleh penyair.” Simbol-simbol yang terdapat dalam puisi adalah pada kata-kata. Melalui film ini, Katil mencoba menvisualisasikan dan mempersonifikasikan simbol-simbol itu dalam bahasa gambar. Namun dalam penggarapannya, ia tetap mempertahankan unsur-unsur pengucapan puisi. Disadari bahwa cara ini berakibat, terjadi sesuatu yang tidak natural dan realis. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Secara keseluruhan film ini tentunya juga memiliki sisi lemahnya. Ilustrasi musik yang agak keras, kadang-kadang dominan sekali, terasa sangat mengganggu. Bahkan kehadiran musik pada beberapa adegan, mengalahkan dialog, sehingga dialog antar pemain tidak jelas didengar. Barangkali, sebaiknya tidak semua bagian atau adegan diisi dengan musik secara penuh. Adakalanya musik dimulai dengan &lt;em&gt;feed-in, &lt;/em&gt;dan diakhiri dengan &lt;em&gt;feed-out. &lt;/em&gt;Tetapi ini memang disadari oleh Katil dan Cholis sebagai penata musik, bahwa pencapaian dan penempatan musik belum maksimal.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Khusus pada editing, pencahayaan, dan ketajaman gambar, Katil hanya terkendala pada peralatan yang digunakan. Amat sulit mencari peralatan yang standar untuk syuting dan proses editing film di Sumatra Barat. Sebagai seorang sineas, secara teknis ia hampir tidak mengalami masalah, kecuali hanya pada&lt;span&gt; &lt;/span&gt;peralatan yang digunakan. Selamat Katil. Kalau tidak keliru, Anda adalah orang pertama Magister Film di Indonesia produk perguruan tinggi Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Padangpanjang, 4 Juli 2006&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Asril Muchtar&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pengajar STSI Padangpanjang&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Juni 18, 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-6236348154773242325?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/6236348154773242325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=6236348154773242325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/6236348154773242325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/6236348154773242325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2009/02/musim-kematian-bunga.html' title='MUSIM KEMATIAN BUNGA:'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-1993772255469307602</id><published>2009-02-13T10:45:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T10:46:37.577-08:00</updated><title type='text'>dari httw.kompas</title><content type='html'>&lt;div style="color: rgb(255, 255, 255);" class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;DI Sumbar, pembikinan film ini merebak sampai mana-mana, menusuk sampai ke daerah yang permai, Payakumbuh. Di daerah yang antusiasmenya terhadap sastra sangat tinggi ini, puisi kini diangkat ke film, seperti film Musim Kematian Bunga produksi Komunitas Seni Intro Payakumbuh. Film ini didukung para seniman/ penyair seperti Iyut Fitra, Dian Prima Warta, Adek Roro Wulan Rastika, Topan Dewi Gugat, Fira Susanti, dan lain-lain. Musim Kematian Bunga yang disutradarai Yusril SS hanya salah satu, dari karya-karya lain seperti Malin Kundang Milenium (Alwi Karmena), Mendayung Biduk Tiris (Drs M Yusuf H Mum), Surau (Syahindra Buana), Teror (Yanuar GN), dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;Mereka terhitung serius. Berbagai diskusi atas karya-karya tersebut digelar, antara lain di Taman Budaya Provinsi Sumbar, di kampus Universitas Bung Hatta, dan di Universitas Andalas. Aktivitas ikutannya, berupa dibentuknya Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Artis Sinetron Indonesia (Parsi) bulan Juni lalu. Kepengurusan itu dilantik oleh artis Anwar Fuady yang setia memakai baju merk Versace.&lt;br /&gt;Atau di Batam, ketika dua anak muda yang juga dikenal sebagai wartawan harian Lantang, Moch Ryan Djatnika dan Tarmizi hendak membikin film yang berkisah tentang tenggelamnya nasib nelayan dalam judul Tenggelam, ternyata dukungan masyarakat setempat begitu besar. Katanya, dari sumbangan masyarakat terkumpul Rp 25 juta untuk membikin film ini.&lt;br /&gt;“Kami tak mengira, respons dari pemerintah maupun masyarakat begitu kuat mendorong kami untuk berkarya. Bagi kami, dukungan dari masyarakat jauh lebih penting ketimbang film yang kami buat. Uang itu kami gunakan untuk membiayai film termasuk honor dan uang transportasi para pemain,” ungkap Tarmizi.&lt;br /&gt;Segala keterbatasan prasarana agaknya diharapkan melahirkan “keajaiban”. Tiga mahasiswa Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Sumatera Utara, Aap, Cici, Ida, ingin mengkonkretkan cita-cita mereka membuat film. Maka, mereka pun membuat film bertema psikologis, Jiwa Terpasung.&lt;br /&gt;“Waktu ngambil adegan berangkat ke luar negeri, diam-diam kita masuk ke Bandara Polonia di terminal keberangkatan luar negeri. Untuk mengambil suara pesawatnya dan merekam gambar pesawat saat take off, terpaksa aku harus berdiri di atas kap mobil Cici yang panasnya minta ampun. Hasilnya lumayan. Selain kaki terbakar, suaranya juga bisa terekam…” kata Firman, yang bertugas sebagai juru kamera.&lt;br /&gt;Di Bandung, sekelompok anak muda yang menyebut diri mereka Safers (singkatan Sarekat Felem Mekers) berencana membuat film berjudul Episode IV yang akan mereka produksi tahun depan. “Kalian tahu enggak apa yang kudu kita cari? Orang paling gendut se-Bandung,” kata Ervin, salah satu dari kelompok itu. Mereka membikin film, tambahnya, “Sebelum kami mencapai hidup yang mapan, menjadi pegawai negeri yang tiap hari naik vespa ke kantor dan punya keluarga yang menunggu di rumah mungil  dengan kebun bunga.” &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Juni 18, 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-1993772255469307602?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/1993772255469307602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=1993772255469307602' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/1993772255469307602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/1993772255469307602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2009/02/dari-httwkompas.html' title='dari httw.kompas'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-2112622973752170333</id><published>2009-02-13T10:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T10:33:16.134-08:00</updated><title type='text'>Menggugat Demokrasi Minangkabau</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 51);" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Catatan Pementasan “Tangga” Komunitas Seni Hitam-Putih Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: black;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;OLEH &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;NASRUL AZWAR&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Pada Pentas Seni II Tahun 2002 yang diselenggarakan Dewan Kesenian Sumatra Barat, Teater Eksperimental KPDTI Fakultas Sastra Unand hadir dengan pertunjukan berjudul “Jenjang”, karya dan sutradara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Prel T. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Saat itu, Prel T mengatakan, “Jenjang” digarap dengan konsep eksperimen yang difokuskan adalah teknik estetis pertunjukan. Seluruh pengadegan didominasi oleh konsep fungsional. Pembentukan set di samping bersifat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;statis, juga dinamis. Maka dengan sendirinya set dibentuk melalui pembentukan adegan. Sentral &lt;i&gt;performance&lt;/i&gt; adalah ruang (bukan bidang). Seluruhnya memanfaatkan sejumlah jenjang (dalam berbagai ukuran) sebagai properti utama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Pertunjukan Teater Eksperimental KPDTI itu telah lewat 5 tahun lalu. Saat itu, saya mencatat, pertunjukan “Jenjang” berhasil dalam konsep eksperimental, tapi gagap dalam penyampaian isi dan pemeranan. Sehingga yang terlihat di atas panggung adalah seperti seorang khatib menyampaikan kutbahnya. Idealnya sebuah pertunjukan teater, tentu, keduanya—konsep garapan dan pemeranan—sebuah yang inheren dan terintegrasi. Keduanya mesti sama-sama diperjuangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Pekan terakhir Juli lalu, 21 Juli dan 27 Juli 2007 di Kota Padang Panjang dan Padang, publik teater disuguhkan dengan pertunjukan teater yang juga eksperimentatif dalam garapannya, yakni pertunjukan teater berjudul “Tangga” yang dipentaskan oleh Komunitas Seni Hitam-Putih Padangpanjang, sutradara Yusril. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Dari informasi yang diperoleh, “Tangga” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;bersumber dari dua karya dari penulis yang berbeda, yaitu puisi “Tangga” karya penyair Iyut Fitra dan naskah drama “Jenjang” karya Prel T. Inti dari cerita seputar sistem kekuasaan di Minangkabau yang bersumber dari ideologi Datuk Katumanggungan (Koto Piliang) yang lebih cenderung feodalistik dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang (Bodi Caniago) yang mengarah demokratis dan egaliter. Kedua ideologi itu tidak dimaknai dikotomis oleh masyarakat Minangkabau, tapi lebih pada tataran sinergitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Pementasan “Tangga” mengesankan kehendak untuk menyampaikan hal demikian. Maka, muncullah kalimat-kalimat yang keluar dari mulut tokoh-tokoh di atas pentas, seperti &lt;i&gt;bajanjang naik batanggo turun&lt;/i&gt; (berjenjang naik bertangga turun), &lt;i&gt;duduak sahamparan, tagak sapamatang&lt;/i&gt; (duduk sehamparan dan berdiri sepematang), &lt;i&gt;indak kayu janjang dikapiang&lt;/i&gt; (tiada kayu jenjang dikeping) &lt;i&gt;lah jatuah diimpik janjang&lt;/i&gt; (sudah jatuh tertimpa tangga), dan lain sebagainya yang merupakan idiom-idiom sosial yang sangat akrab dengan masyarakat Minangkabau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Malam itu “Tangga” dibangun menjadi situs atau lokasi dalam sebuah ruang yang dikonstruksi secara sosial dengan simbolisasi yang relevansinya kadang lepas. Tokoh-tokoh yang niridentitas diberi beban yang cukup rumit dan rijit untuk memanifestasikan makna-makna simbolik dalam sebuah ruang yang sarat dengan kehendak, keinginan, dan juga ambisi, yang akhirnya semua tak terkendali dan tak fokus. Pementasan “Tangga”, malam itu, 27 Juli 2007 di Taman Budaya Sumatra Barat, seperti kehilangan konsentrasinya dan melupakan basis yang sebenarnya telah jadi kekuatan Komunitas Hitam-Putih selama ini, yakni eksploratif dan semiotif visual. Dan saya membandingkan ini dengan pertunjukan sebelumnya, yaitu “Menunggu” dan “Pintu”, sekadar menyebut contoh saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Praktik-praktik pemaknaan atau aktivitas penciptaan makna yang selama ini demikian kaya hadir dalam setiap garapan Komunitas Seni Hitam-Putih, seolah tak saya jumpai lagi di “Tangga”. “Tangga” seperti sebuah antiklimaks perjalanan teater kelompok ini. Dalam catatan saya, dan ini bisa diperdebatkan kembali, bahwa Komunitas Seni Hitam-Putih terasa kurang pas bermain dalam tema-tema yang terkait dengan tradisi kultur Minangkabau, dan mereka sepertinya mesti belajar lebih banyak terkait dengan Minangkabau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Namun demikian, selama ini, sesungguhnya, kelompok ini telah menemukan bentuknya dalam ranah eksploratif dengan tema kontemporer yang universal, dan isu-isu posmodern. Dan gaya ini sesungguhnya telah terbangun sejak berdirinya kelompok ini tahun 1996.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Sepanjang hampir satu jam pertunjukan “Tangga” dengan penjejalan tubuh-tubuh aktor, yang katanya fungsional sebagai properti pentas dan fungsionalisasi propereti tangga (yang jumlah sama banyak dengan aktor, yaitu 8 (delapan), tentu memberi warna lain dalam perkembangan teater di Sumatra Barat. Paling tidak, konsepsi garapan dan bentuk pemanggungan, bagi saya memang berbeda dengan kelompok-kelompok teater lainnya. Kekuatan estetik dengan konsepsi yang membuka kemungkinan-kemungkinan tafsir di atas pentas, adalah kelebihan “Tangga”, tapi—seperti disebut sebelumnya—gagap dalam pemeranan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Delapan buah tangga yang diusung masing-masing pemain, seperti videp klip yang menghadirkan penggalan-penggalan peristiwa: tangga kadang dikonstruksi sebagai alat untuk meraih kekuasaan, bangunan penjara kekuasaan, alat penindas bagi penguasa, menara kekuasaan, pembatas kekuasaan, jembatan untuk berkuasa, beban kekuasaan, keranda mayat akibat kekuasaan, dan sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Dengan mengenakan busana merah, depalan orang dan delapan jenjang, yang sukar diidentifikasi emosionalnya karena mamang ke delapan orang yang ada di pentas itu niridentitas: Mereka tak punya titik simpul dalam tataran sosial. Maka, hal itu tak mungkin dilakukan. Mengurai identitas delapan tokoh-tokoh itu sama saja dengan mereduksi dalam struktur sosial yang stabil. Mereka bukan berada dalam regularitas sosial dengan memakai pola-pola sosial yang mapan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka adalah representasi sosial yang cenderung resistensif terhadap tatanan yang sosial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Maka, semua dialog yang muncul di atas pentas, seperti sebuah bunyi-bunyian. Bunyi-bunyian yang dimanifestasikan dalam beragam gerak dan konstruksi simbol-simbol. Simbol yang dibangun pun kadang bertolak belakang dengan ucapan tokoh. Kata-kata hanya merupakan teriakan di tengah galaunya sistem sosial dan kekuasaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Sehingga, &lt;i&gt;content&lt;/i&gt; yang susungguhnya tak perlu lagi secara verbal disampaikan aktor, menjadi kehilangan maknanya. Ucapan-ucapan yang dikeluarkan dari mulut aktor, menjadi artifisial. Kadang, dialog atau kalimat yang melompat itu, kontradiktif dengan bangunan “peristiwa” teater yang sedang berlangsung di atas pentas. Dalam tradisi Minangkabau, pepatah &lt;i&gt;bajanjang naik batanggo&lt;/i&gt; tidak dimaknai secara verbal dan artifisial dengan melakukan gerak turun naik tangga, tetapi lebih kepada mekanisme dan regulasi dalam mengambil keputusan yang bijaksana. Di “Tangga” aktor melakukan gerak turun naik tangga dengan sangat verbalistik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Gerak, yang tampaknya banyak dikolaborasikan dengan koreografi, terlihat tak mampu mempertegas maknawi teks yang sastrawai itu. Tokoh-tokoh, karena demikian banyak beban “Tangga” yang ingin disampaikan, tampak lelah. Penggunaan bahasa dalam rentang satu jam itu, mengesankan seperti bukan berasal dari hubungan antarkata yang kompleks, dan bukan berangkat dari karakteristik tokoh-tokoh yang hakiki. Makna kata dan kalimat dialog tokoh-tokoh tidak menemukan relasional dan kontekstualnya. Ada yang lepas antara simbol yang dikontruksi dengan ucapan tokoh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Maka, beberapa aspek yang sangat perlu didiskusikan lebih lanjut adalah persoalan aktor dan pemahaman naskah itu sendiri. Proses teater bukan semata menuju pada bentuk pertunjukan, tapi, teater juga terkait dengan sejauh mana pemahaman aktor dan juga elemen lain (musik, pencahayaan, dan juga penasihat spiritual Komunitas Seni Hitam-Putih) terhadap tema-tema yang digarap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Pada “Tangga” saya menjumpai bagaimana aktor kurang demikian akrab dengan apa yang disebut dengan simbol-simbol dan kalimat-kalimat penuh filosofi yang dijadikan basis garapan Komunitas Seni Hitam Putih. Dan kasus serupa juga terjadi saat Teater Eksperimental KPDTI Fakultas Sastra Unand mementaskan “Jenjang”, kendati untuk menghadirkan simbolisasi, memang lebih kaya Yusril. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Tapi, sisi yang menarik adalah pemanfaatan dan eksplorasi panggung yang dilakukan Yusril cukup inovatif: Pentas bisa saja hadir di dinding panggung dan samping panggung. Apa yang dikatakan dengan “meruang” tampak menemukan realitasnya. Gaya demikian tentu dimaknai sebagai suatu praktik pemaknaan yang melibatkan objek-objek (tangga dan ruang pentas) dalam kaitannya untuk membangun semiotika visual sebagai tanda kultural. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style="font-family: Verdana; color: rgb(255, 255, 255);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Selain itu pula, satu hal yang juga menarik, saya melihat pertunjukan ini sukses dari sisi penonton, lebih kurang 200-an penonton memenuhi Teater Utama Taman Budaya Sumatra Barat, malam itu. Tapi, saya juga bertanya-tanya, apakah penonton nyaman menikmati pertunjukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu? Semoga saja. ***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-2112622973752170333?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/2112622973752170333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=2112622973752170333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/2112622973752170333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/2112622973752170333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2009/02/menggugat-demokrasi-minangkabau.html' title='Menggugat Demokrasi Minangkabau'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-2342193439799491921</id><published>2009-02-13T10:12:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T10:14:09.074-08:00</updated><title type='text'>Catatan Pementasan "Tangga" Hitam-Putih Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Menggugat Demokrasi Minangkabau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Oleh Sahrul N&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-size: 85%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;“dengarlah, kusampaikan padamu sebaris kisah di sebuah gunung merapi yang dulu sebesar telur itik, lama setelahnya, dari dua lelaki seibu berbeda ayah lahirlah sistem bernama laras dua lelaki yang berbeda pikiran, orang menyebutnya koto piliang dan bodi caniago berjenjang naik, bertangga turun dan duduk sehamparan, tegak sepematang bagai lukisan perdamaian”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Dialog demokrasi tak bernama inilah yang diusung dalam pementasan teater yang berjudul “Tangga” sutradara Yusril dari Komunitas Seni Hitam Putih Padangpanjang Sumatra Barat. Pementasan yang berdurasi sekitar satu jam ini ditampilkan di STSI Padangpanjang tanggal 21 Juli 2007 dan di Taman Budaya Sumatra Barat pada tanggal 27 Juli 2007. Karya seni teater ini terinspirasi dari dua karya sebelumnya yaitu puisi “Tangga” karya Iyut Fitra dan naskah drama “Jenjang” karya Prel T.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Berjenjang naik, bertangga turun, merupakan sistem pemerintahan di Minangkabau yang dicanangkan oleh Datuk Katumanggungan atau yang lebih dikenal dengan kelarasan Koto Piliang. Sistem ini memakai pola top down atau segala sesuatunya ditentukan oleh pemimpin kekuasaan. Seperti dialgog “hitam kataku hitam, putih kataku putih”. Suau keputusan yang tidak lagi bisa diganggu gugat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Berbeda halnya dengan kata-kata Duduk sehamparan, tegak sepematang, yang merupakan kata-kata dalam sistem pemerintahan di Minangkabau yang dicanangkan oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang atau yang lebih dikenal dengan kelarasan Bodi Caniago. Sistem ini memakai pola segala sesuatunya ditentukan oleh musyawarah dan mufakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Kedua sistem ini tumbuh dan berjalan dalam waktu yang sama dari dulu sampai sekarang. Masyarakat Minangkabau tidak mempersoalkan perbedaan diantara keduanya, tetapi mengkolaborasikan keduanya atau berjalan beriringan dan saling membantu. Dua sistem yang bertolak belakang namun saling membantu menimbulkan pertanyaan, demokrasi apakah yang yakini oleh masyarakat Minangkabau?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Kolaborasi sistem pemerintahan ini diwujudkan dalam bentuk teater kontemporer dengan konsep akting distorsi dimana tubuh tidak lagi menjadi tubuh yang sebenarnya. Tubuh aktor adalah tubuh tanpa jenis kelamin, dia bisa menjadi tubuh sosial, tubuh budaya, tubuh akrobatik, tubuh tak terhingga dan tubuh ikonitas. Tubuh ini menciptakan ruang makna yang beragam dalam diri masing-masing aktor. Keinginan untuk setiap bagian tubuh bicara banyak makna merupakan hal yang sangat menentukan. Namun sayang, dialog puitis yang menjadi arah peristiwa kadang-kadang diucapkan oleh aktor tanpa tendensi makna, sehingga kata tersebut berlalu begitu saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Lewat bantuan properti tangga yang jumlahnya sebanyak jumlah aktor (delapan), pencarian ekspresi tidak dalam bentuk datar namun meruang ke segala arah. Lantai pentas bisa ada dimana-mana, tidak hanya horizontal namun juga vertikal. Properti dari kayu ini menciptakan ruang makna yang tak terhingga dan diekplorasi sedemikian rupa menjadi ikon-ikon yang menupang ikon-ikon tubuh aktor. Tangga bisa menjadi pentas itu sendiri, bisa juga menjadi penjara, menara, pembatas, jembatan, beban, keranda, dan sebagainya. Akan tetapi pencarian eksplorasi properti ini pada bagian-bagian tertentu bisa menjadi verbal dan tanpa ikonitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Begitu juga dengan peristiwa yang diambil dari mitos Minangkabau ini hanya sebagai alat untuk mengungkap sesuatu yang lebih universal. Peristiwa demokrasi tanpa judul ini diaktualisakan dengan demokrasi secara menyeluruh yang ada di bumi ini. Peristiwa perang dengan segala akibatnya dan penjajahan peradaban oleh negara maju terhadap negara berkembang dan terbelakang, menjadi sorotan kemanusiaan karya ini. Bisa dilihat dalam dialog “di timur matahari akan terbit” bisa menjadi indikasi bahwa ada perlawanan keras terhadap hegemoni barat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Ikon-ikon Minangkabau menjadi referensi penting dalam pertunjukan ini. Gerakan silat, bahasa, carano (tempat sirih) dan lain-lain dalam seluruh peristiwa adalah ikatan tematik yang coba dipertahankan oleh sutradara dalam rangka memadukan struktur. Boleh saja bicara lokal, namun makna yang ingin disampaikan tidak lagi lokal. Hal ini merupakan upaya untuk pencarian makna yang melampaui realitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pembesaran makna dari peristiwa mitologi Minangkabau ini, kadangkala membuyarkan identitas persoalan yang sebenarnya. Klip-klip peristiwa memang diusahakan semaksimal mungkin memiliki hubungan struktur yang padu, akan tetapi sering pula terputus. Atau memang ini yang diinginkan Yusril? Sesuatu yang seluruhnya distorsi? ***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-2342193439799491921?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/2342193439799491921/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=2342193439799491921' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/2342193439799491921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/2342193439799491921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2009/02/catatan-pementasan-tangga-hitam-putih.html' title='Catatan Pementasan &quot;Tangga&quot; Hitam-Putih Indonesia'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-4881057069459685710</id><published>2009-02-13T10:08:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T10:09:20.212-08:00</updated><title type='text'>Kalau Saja Ada Tangga ke Langit</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;i style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Oleh &lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;" lang="IN"&gt;Zelfeni Wimra&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Kalau saja ada tangga ke langit, tentu banyak orang yang suatu waktu ingin menaikinya. Tinggalkan sejenak kehidupan dunia yang hiruk dan semakin sesak oleh ketakberaturan nilai-moral. Manusia semakin terdesak oleh kecepatan perubahan dan sangat berhasrat untuk melupakan pikiran-pikiran yang sering melompat melampaui realitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tapi bukankah, kita (manusia itu) beserta hewan yang melata lainnya, telah lama terdampar sejak Adam dan Hawa diusir lantaran tidak sabar menunggu kapan saatnya menaiki tangga untuk memanjat batang &lt;i&gt;Quldi&lt;/i&gt; dan memetik buahnya. Keterburu-buruan ternyata telah mengantar mereka -hingga ke kita- pada pilihan yang sering tidak sesuai dengan naluriah kemanusiaan itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Makanya, setelah berkurun-kurun melata di muka bumi, ketidakpuasan manusia terhadap realitas serta tuntutan pemenuhan kebutuhan yang penuh perebutan membuat mereka merasa lemah. Sehingga, perlu ada tambatan jiwa, tempat berlindung, dan mohon pertolongan. Tetapi tempat bernaung dan minta pertolongan itu selalu menjadi rahasia. kadang terasa tinggi sehingga diperlukan alat untuk mencapainya. Jika ketingiannya bisa dihitung jengkalan, seorang seseorag tentu tidak perlu terlalu panik memikirkan. Alternatif alat mencapai ketingian tersebut bisa saja dengan bantuan alat-alat lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Materi; benda kasat mata yang lazim untuk mencapai ketingian adalah tangga. Hal serupa terjadi jugakah pada proses pencapain imateri? Ketika ketingian “sesuatu” yang hendak di capai itu menyamai langit, tangga seperti apa gerangan yang bisa mengantar seorang manusia itu tadi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Asumsi sementara dapat dinarasikan bahwa semakin banyak ketinggian, semakin beragam pula tangga yang digunakan untuk mencapainya. Serta tak terhitung bagaimana cara membuat dan menggunakan tangga.selama manusia suka ketinggian, selama itu pula tangga diperlukan. Dari sini bisa disimpul sebuah opini, bahwa aktivitas pencarian yang tinggi, tempat menemukan perlindungan tersebut akan terus berjalan sepanjang kehidupan itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;Mengidentifikasi Ketinggian &lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Banyak orang menyugesti dirinya dengan sebuah istilah bijak: gantungkan cita-citamu setingi bintang di langit. Ini pekerjaan terus dilakukan manusia turun-temurun; berulang-ulang. Merancang sebuah kehidupan dengan pengandaian yang dibahanbakari imajinasi dan kehendak ingin lebih baik dari hari ke hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Menjadi presiden tentu amat tinggi bagi seorang tukang becak [memang tidak setingi bintang di langit], tetapi si empunya keinginan tersebut telah dihukum kausalitas. Pertama-tama ia tentu harus pintar. Bisa menguasai, misalnya bahasa Inggris dan mencapai sejumlah gelar dengan sertifikasi yang diakui. Seterusnya, ia tentu harus kaya, guna memenuhi tuntutan sistem politik yang mengharuskan seorang pemimpin bangsa punya kecakapan finansial untuk membeli massa [ini terjadi tentu tidak di Indonesia saja].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Menjadi pintar dan kaya adalah dua tangga yang mesti dilalui oleh si tukang becak jika bercita-cita jadi presiden. Dan sudah menjadi rahasia umum ketika cara mengunakan tangga untuk menncapai ketinggian yang diidam-idamkan itu juga ada teknik dan strateginya. Tidak tertutup kemungkinan, semua siasat yang dipilih tiba-tiba halal dalam hitungan jari. Perumpamaan ini bisa diteruskan ke hal lain yang terkait dengan hasrat manusia yang suka ketinggian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Apalagi yang tinggi selain tahta dan sejumlah cita-cita manusia dalam kehidupan duniawi? Mungkin Tuhan. Tuhan Juga tinggi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Kabar yang menggelisah inilah ditemukan dari perjalanan estetik seorang Yusril, teaterawan berdarah Minang yang intens dengan sebuah kredo ‘distorsi’ dan dekonstruksi pada proses penggarapan Tangga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Naskah Tangga pada mulanya hanya rentetan teks puisi yang ditulis Iyut Fitra, konon setelah berdiskusi dengan Yusril. Memang bukan Yusril namanya, kalau teks puisi atau teks apa saja sudah sampai di “rumah” kreativitasnya lantas tidak ada tawaran visualisasi yang akan dibantai dengan pisau distorsi dan dekonstruksi itu tadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pada penggarapan sebelumnya, Yusril pernah dipergunjingkan kritikus teater sebagai seorang arsitek yang akan membangun sebuah rumah. Barangkali itulah rumah estetik yang dirindukannya sebagai pekarya teater yang sudah melewati penempuhan panjang penciptaan. Sebelumnya, dengan mengusung nama Komunitas Hitam Putih, ia telah menggarap &lt;i&gt;Jendela, Cermin, Kamar, Pintu,&lt;/i&gt; dan hingga kini &lt;i&gt;Rumah&lt;/i&gt; tersebut sudah rampung. Kabarnya, Yusril juga sudah membikin taman di halamannya, tetapi nyaris lupa, rumah estetik tadi belum ada “&lt;i&gt;Tangga&lt;/i&gt;”nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Konotasi sebuah rumah tanpa tangga, atau rumah tanpa jendela, dalam pembacaan Yusril sebagai orang Minangkabau ternyata menimbulkan kesan kebelumsempurnaan. Boleh dilihat pada sejumlah ungkapan bijak di Minangkabau: &lt;i&gt;Bajanjang naiak, batanggo turun&lt;/i&gt; (berjenjang naik, bertangga turun). Dalam konstelasi Minangkabau, ada aturan main dalam proses naik turun rumah itu. Ini lebih beralasan ketimbang Oedypus yang naik turun ke sebuah ketinggian yang tak jelas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Kemudian ada pula keberanian-keberanian temporal yang harus dioambil secara dadakan. Berani atau nekad itu terlihat dalam &lt;i&gt;indak kayu, janjang dikapiang/tabujua lalu tabalintang patah &lt;/i&gt;(kalau tidak ada kayu,jenjang dikeping/terbujur lalu, terbelintang patah). Tanggayang tadi dihormati pada kesempatan tertentu boleh dikeping, dihancurkan jadi kayu api buat memasak makanan atau sebagai properti untuk bangunan lain. Yang tidak boleh itu adalah berhenti berdialektika hanya gara-gara ada aral melintang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Idiom-idiom bahkan ideologi sekitar Tangga sangat kompleks. Sebagai sebuah perjunjukan teater, Yusril tentu sudah berdamai dengan itu semua dan cara Yusril berdamai biasanya dengan membongkar elemen atau bahasa Yusril sendiri ‘individu’ rumahnya. Bahkan Tangga untuk menaikinya pun berpeluang untuk dikeping. Begitu juga mungkin terhadap pintu dan kamar-kamar di dalamnya. Bisa jadi juga, Yusril justru tidak membuat tangga untuk menaiki rumah estetiknya, tetapi malah membuat tangga menuju langit dan mengajak orang-orang meninggalkan bumi. Wah, segalanya belum utuh, masih dalam proses pembuatan menjadi sebuah pertunjukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="IN"&gt;Pertunjukan yang akan digelar pada 21 Juli di STSI Padangpanjang dan 27 juli di Taman Budaya Sumatera Barat ini, hasil hibah-menghibah Komunitas Hitam Putih dan yayasan kelola ini sepertinya menjadi pertaruhan bagi Yusril sebelum orang-orang ia izinkan menaiki Rumah-nya. Selamat bertandang. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-4881057069459685710?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/4881057069459685710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=4881057069459685710' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/4881057069459685710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/4881057069459685710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2009/02/kalau-saja-ada-tangga-ke-langit.html' title='Kalau Saja Ada Tangga ke Langit'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-435542587522972149</id><published>2008-11-23T10:24:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T10:27:12.817-08:00</updated><title type='text'>tangga</title><content type='html'>by. iyut fitra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;di timur matahari akan terbit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kawanan orang-orang bergerombol itu bertemu pendakian, kita, setumpak pencarian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;gaduh dalam zikir. tasbih airmata menuju langit, puncak dari waktu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;terjemahkanlah, wahai, beku batu-batu. siapa memancang istana di udara jauh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;memancang singgasana di tinggi labirin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dan kawanan orang-orang bergerombol, kita, saling sikut berebut tempat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mencari arah matahari. atau di mana bulan jatuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“sorga!” kau dengar sayat itu? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;gelombang nada membakar tanah-tanah. meluap darah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;di padang-padang hampar. kitalah para penunggang berpedang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menebas jalan-jalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menebas harapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kemudian terlantun sepantun dendang; berjenjang naik, bertangga turun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;orang-orang, (dan juga kita) bersikejar naik turun mencari-cari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bahkan saling membakar sebelum segala kembali gelap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;di manakah matahari itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bergelisahan orang-orang terus menuju. menebaskan pedang-pedang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pada satu cahaya yang jauh. o, tahta!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ada yang terbujur lalu. ada yang terbelintang patah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sementara nasib demi nasib terus saja dibantai entah atas nama apa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-tangga! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kau dan saya tak tahan pada perih, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;lalu menanjaki cobaan selanjutnya &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;untuk meneduhkan hasrat dari kuyup. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi kau dan saya &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menjadi jenuh pada nyaman. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di mana setiap lelah, putus-asa &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dapat kau baringkan di setiap ruang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oh…, ketenangan! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ternyata ketenangan juga merindu keperihan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lantas kau kembali menuruni jenjang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dan mencari pilu untuk disimpan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mengapa&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kau dan saya &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tak rela kedatangan cemas, sebelumnya?*)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-o, tidak! keperihan tak menuruni jenjang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;luka menerjang naik menghujam hari. melupakan hati&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kau lihat orang-orang mengorbankan langkah dan darah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;berselendang nafsu mereka berburu ke pintu-pintu. melewati tangga-tangga&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tak hirau pada cemas dan naas. mengorbankan diri juga negeri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;untuk kedamaian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-tangga!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-mengapa harus tangga?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-jalan menuju tahta!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-untuk siapa?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-kita!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-juga mereka!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-o, cakrawala kekuasaan. betapa telah kau ciptakan semesta dukalara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kami adalah orang-orang kehilangan dalam mencari&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;orang yang tak mengerti lagi tentang arti&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;di singgasana bertahta mahkota. di tebing demokrasi dianjungkan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sekian juta di antara kita larut dalam salut. sebagiannya mengasah pedang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ingin merampasnya. kau lihat barisan penunggang itu telah mencapai batas?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;napasnya haus. dan negeri akan tenggelam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dalam dendam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-tangga! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;wahai, orang-orang yang mencari tangga. naiklah!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;proklamirkan perdamaian pada burung-burung bangkai di langit sebelum mendung turun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sebelum darah menjadi sungai-sungai kematian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;yang akan menidurkan anak-anak kita&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;di timur matahari akan terbit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;maka kawanan orang-orang bergerombol itu, kita, seolah-olah menyembah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;ketika waktu berhenti mati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;serak mayat. ibu-ibu di pengungsian. atau kanak-kanak yang kehilangan tepian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;adakah mereka, adakah kita pernah menghitungnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;selain tangis yang kita simpan di meja makan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;dan perjalanan yang terus menuju pendakian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;lalu dendang itu terus; berjenjang naik, bertangga turun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;naik turun yang membangun perisai di tiap detik merasai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;orang-orang, kita, mencoba mengukuhkan diri atas sesuatu yang tak pasti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;di manakah matahari?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;di mana hidup dapat ditahankan bila setiap saat orang-orang berlagu tentang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;kekuasaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-dengarlah, kusampaikan padamu sebaris kisah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;di sebuah gunung merapi yang dulu sebesar telur itik, lama setelahnya, dari dua lelaki seibu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;berbeda ayah&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;lahirlah sistem bernama laras&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dua lelaki yang berbeda pikiran. orang menyebutnya koto piliang dan bodi caniago**)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;berjenjang naik, bertangga turun dan duduk sehamparan, tegak sepematang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bagai lukisan perdamaian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dari dua simpang yang bersilang. cairlah kata sepakat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dalam kurun dan musim. dalam waktu-waktu lalu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;orang-orang bernyanyi di tepian. bersenandung di halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;inilah matahari! inilah matahari!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mereka menjerit-jerit di antara lumbung-lumbung dan padi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;berlarian di sawah-sawah basah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tapi siapa yang menetaskan peradaban? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;hingga kisahku kini legenda. tangga-tangga putih menjelma lintasan ke kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;orang-orang mengusungnya ke mana pergi di keliling pedang-pedang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;para penunggang pun lahir dari demokrasi yang silam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kenangan,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;negeri ini tak lebih kenangan!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-lalu ke mana ke dua lelaki itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-pulang ke gunung merapi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-adakah sesuatu yang mereka tinggalkan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-kenangan!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-siapa yang menyimpan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-orang-orang, dan kita!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tapi tak ada lagi yang mampu menetaskannya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kita kalah oleh waktu. kita kalah oleh birahi yang menggeliat setiap hari&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kita tak lebih dari gerombolan penunggang berpedang yang memburu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tangga-tangga tak bermakna&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-tangga!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-ya, kita butuh tangga!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-kita harus naik dan mencari damai yang pernah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-tanpa darah!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-darah?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-tanpa kematian!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;di timur matahari akan terbit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;kawanan orang-orang bergerombol itu, kita, siapa yang masih menyimpan kenangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;sesilam damai yang lampau. jalan-jalan ke tepian yang aman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;keris hanya ditikamkan ke batu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;dan salam diulurkan dalam mufakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;tapi mereka, kawanan orang-orang bergerombol, kita, hanya mengadukan luka pada ciuman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;pada zikir dan tasbih airmata. sebab di sepanjang tangga pesta itu berlangsung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;orang-orang terus membangun sumur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;bagi darah-darah, dan kematiannya sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;di timur matahari akan terbit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;kawanan orang-orang bergerombol itu, kita, terus melanjutkan pendakian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;mencari matahari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Payakumbuh, April 2007&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;Catatan: *) Dikutip dari puisi Feni Efendi yang juga berjudul Tangga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;**) Sistem pemerintahan di Minangkabau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-435542587522972149?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/435542587522972149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=435542587522972149' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/435542587522972149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/435542587522972149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2008/11/tangga.html' title='tangga'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-6297906150442038312</id><published>2008-11-23T10:22:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T10:23:13.167-08:00</updated><title type='text'>“WELCOME”</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;by. yusril&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;FADE IN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;On the screen, minangkabau's wisdom words are being narrated. The words are describing how minang's culture is welcoming a change. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Once a big water flows, it changes the seaside. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;FADE OUT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;FADE IN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;EXT.  The garden of a Minangkabau House - Midday&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;The sky is clear, we look at the full view of Rumah Gadang; a traditional house in Minang. Camera moves slowly to the door. In front of it, there is a woman wearing a complete traditional cloth, she brings a carano; a plate of betel leaves  as a symbol of welcoming guests. She sees the world in front of her with empty eyes.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;CU.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;She is looking at the garden. She sees no one. It is a wide and calm garden. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;MCU.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;An empty granary. A broken Stone mortar. Some chickens are eating rice. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;CU.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;The women starts to smile, a weird smile comes out from her lips while going downstairs and leaves the Rumah Gadang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;CU.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sirih Leaves scatter along the road&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;CU.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;The woman's feet are walking on the causeway&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;FULL SHOOT.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;The Minangnese woman is passing the river and the village&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;MCU.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Villagers are watching her with smile, some of them are amazed by her appearance and some of them look at her in a cynical way. Even When she nearly leaves the village, people seem to look at her with empty eyes.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;EXT. Bus station - midday&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;MCU.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Footsteps are coming into the station&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;FULL SHOOT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bus station view in the midday&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;LS.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;The woman who wears traditional cloth is standing in the middle of the crowd. She is looking around and saying welcome to everyone&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“WELCOME, WELCOME” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;That is the only words that can come out from her mouth, her lips are bright red. People do noy pay any attention to her. She dances, a dance that is used to be performed to welcome guests. Betel leaves are falling down. She is welcoming a group of drunken youngster with a welcome dance. Welcoming the ticket scalpers, who are doing transactions with the passengers, welcoming security guards who are fighting with the illegal street sellers. No one seems to care. The events just goes by. She is dancing with a solitude feeling.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;CUT TO CU.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bus wheel is rolling on the street&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;INT. In the bus - midday&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;In the bus which is going to down town, the woman is sitting alone. She  is putting a carano as a symbol of a welcoming ceremony. The other passengers look at her strangely. The wheel is keek rolling on the street, passing the bilboard, airport, bridge, symbols of a big city.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;CUT TO.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;EXT. Big Street - midday&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;The minangnese woman is walking around the crowd.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;EXT. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;She is standing and feel nothing in front of a mall. Face to face with  young modern girls with their handphones. Young mothers with their shopping stuff. She's stopping on a stair. She is looking to her right ,and there is KFC, and her left she is seeing CFC. She is going into the mall, and being welcomed by ringtones from the handphone stores and in front of her many tv stations (promotion of a product in a mall), are showing various programs from some countries such as China, India, Amerika, Perancis, Korea, and she caught by some criminal news. her body slowly shakes...then it cahnges into a  welcoming dance. She is dancing among televisons, she is dancing on the tv. Betel leaves are scattering again.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;DISOLVE TO.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;The woman with traditional cloth is dancing in the crowd of a discotheque. She is Dancing and dancing in a alienated solitude &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;CUT TO.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;That woman is in the cloth counter, freezing with her carano in her hand. Next to her there is a manequin with colourful cloth, a group of young girls with short pants, full of accessories, colored hair, are seeing into the counter. One of them is writing a graffity ‘welcome’. Then, they are laughing and leaving the women with the traditional cloth alone. The sky is dark. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-6297906150442038312?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/6297906150442038312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=6297906150442038312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/6297906150442038312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/6297906150442038312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2008/11/welcome.html' title='“WELCOME”'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-6104883780609734064</id><published>2008-11-23T10:18:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T10:20:05.741-08:00</updated><title type='text'>Tentang Proses Produksi Komunitas Hitam Putih</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Oleh Sudarmoko&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Eksplorasi properti sebagai alat perekat sebuah pertunjukan teater masih menjadi &lt;i style=""&gt;mainstream&lt;/i&gt; yang digunakan dalam beberapa karya teater di tanah air. Setidaknya, titik berangkat pertunjukan terobsesi dari bagaimana properti dapat dieksplorasi dan dijadikan tumpuan utama pertunjukan. Demikian juga dengan proses produksi teater Komunitas Hitam Putih, bertajuk Jenjang, yang menitikberatkan pada elaborasi dan eksplorasi properti dalam garapannya. Produksi ini menjadi bagian dari program Hibah Kelola 2007 dan rencananya akan dipentaskan di STSI Padangpanjang 21 Juli 2007 dan di Taman Budaya Sumatra Barat di Padang pada 27 Juli 2007. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Fenomena ini barangkali dapat dilihat bagaimana jenjang, misalnya, dapat mereferensikan sesuatu ketika dimainkan atau diolah oleh pemain. Bagaimana bentuk konfigurasi yang dapat dimainkan oleh variasi yang dapat dimungkinkan. Ketika berpikir tentang jenjang, beberapa referensi muncul: jalan menuju kekuasaan, tahapan-tahapan dalam sebuah proses, jungkat-jungkit yang menimbang sesuatu, rel yang hitam lurus dan panjang, dan seterusnya. Referensi ini mungkin masih pada permukaan. Kita masih dapat menambahkannya lagi dari berbagai hubungan referensial yang lain. Misalnya dalam pepatah Minangkabau, berjenjang naik bertangga turun, yang merangkum pandangan filosofis dan politis tentang sistem pemerintahan yang merupakan kompromi dari kelompok Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Pepatah ini mengindikasikan sistem yang bersifat &lt;i style=""&gt;bottom up&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;top down&lt;/i&gt; untuk digunakan sekaligus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tarik menarik antara dua kekuatan aliran ini berlangsung terus, dengan ciri khas yang masih dianut oleh masing-masing kelompoknya. Namun, bertangga naik berjenjang turun juga menjadi alternatif bagi kelompok yang memiliki kecenderungan untuk mengompromikannya. Pandangan ini juga yang menjadi perhatian utama dari naskah pertunjukan Jenjang yang disutradarai oleh Yusril ini. Dualisme dan tarik menarik seperti ini akan dapat digunakan sebagai perekat pertunjukan dan menjalin konflik dalam keseluruan pementasan. Dengan demikian, suspense yang yang diharapkan hadir dalam pementasan dapat dijaga keberlangsungannya. Saya tidak tahu pasti apakah Yusril sadar dan memanfaatkan peluang ini atau tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saya berkesempatan untuk menyaksikan proses latihan ini beberapa waktu yang lalu. Tarik menarik antara dua kutub ini masih belum disinggung dalam latihan. Namun demikian, Yusril tampaknya akan mengarah ke soal ini. Setidaknya, hal ini tampak dari elaborasi yang dilakukan oleh Yusril dan kawan-kawan. Ada peluang untuk memasuki ranah filosofis dan politis ini melalui pembagian ruang dan penggunaan properti dalam masing-masing babakan. Apalagi bila hal ini didukung oleh pemanfaatan properti yang akan menjadi daya tarik dari pertunjukan ini. Pembagian ruang yang telah ditemukan selama proses latihannya sesungguhnya menarik untuk dicermati. Yusril membagi stage dengan memanfaatkan propertinya. Setidaknya ada tiga level: di atas pentas, di atas jenjang, dan di dinding belakang pentas. Ketiga level ini dapat memberikan masukan penting dalam penggunaan pentas yang biasa terjadi dalam pentas teater. Tentu saja bila Yusril dapat menghadirkan capaiannya ini dengan baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bagi pemain, saya melihat ada peluang lain yang belum maksimal dilakukan. Bisa jadi, bermain dengan properti dapat menjadi pedang bermata dua. Bila pemain tidak akrab dengan properti, maka properti hanya akan menjadi beban dan menghambat laju permainan. Properti akan memenuhi pentas tanpa memiliki nilai artistik bila tidak dimanfaatkan oleh pemain. Namun bila hal ini dapat diatasi, bisa jadi pemain dapat menggunakan properti menjadi medium yang mendukung permainan. Pada tingkat tertentu, bermain dengan properti keras seperti ini membutuhkan presisi dan hubungan yang intim antara pemain dan properti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pemain belum sepenuhnya memiliki gambaran dan pengalaman emosional dengan properti Jenjang. Ini sebenarnya dapat diatasi dengan lebih mendalam memikirkan dan menghadirkan pengalaman mereka dengan jenjang. Tindakan emosional ini akan membantu pemain dalam memperlakukan jenjang yang dibawa, dinaiki, atau diperebutkan. Jika pemain tidak memiliki pengalaman ini, bisa jadi akan tampak kekakuan dan kehilangan akal dan berhadapan dengan properti mereka sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut informasi, Yusril menggunakan latihan bantu Capuera untuk latihannya ini. Dan waktu yang digunakan untuk berlatih dengan properti ini mungkin akan menjadi masa yang menguntungkan dalam proses latihannya. Apalagi, Yusril dalam sebagian besar produksi teaternya, selalu menggunakan properti sebagai mediumnya. Sesuatu yang menarik secara visual dan pendalaman ceritanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Naskah Jenjang ini berasal dari puisi yang ditulis oleh Iyut Fitra. Dengan menggunakan puisi, tentu saja dialog atau narasi yang ada memiliki kedalaman sastrawi dan patut untuk digunakan secara cermat. Masing-masing kata dipilih dan ditempatkan dengan isian dan makna yang ambigu. Di sinilah mungkin satu peluang lagi dapat dipikirkan oleh Komunitas Hitam Putih dalam menghadirkan peristiwa yang diangkat dalam pertunjukannya ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Persoalan jenjang, mungkin bukan sekadar tangga atau pijakan. Dari sini akan muncul pemaknaan baru yang mungkin saja akan sangat menarik untuk ditonton.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sudarmoko, peminat seni, tinggal di Padang. &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-6104883780609734064?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/6104883780609734064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=6104883780609734064' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/6104883780609734064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/6104883780609734064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2008/11/tentang-proses-produksi-komunitas-hitam.html' title='Tentang Proses Produksi Komunitas Hitam Putih'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-4578547780776083837</id><published>2008-11-23T09:59:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T07:49:53.891-08:00</updated><title type='text'>CURRICULUM VITAE (CV)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Data Pribadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Nama&lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;: Yusril S S.M.Sn&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tempat/ Tggl. Lahir&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: Payakumbuh/5 September 1967&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Umur&lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;: 40 Tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Jenis Kelamin&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;; Laki-laki&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Status&lt;span style=""&gt;                                   &lt;/span&gt;: nikah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Kewarganegaraan&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Agama&lt;span style=""&gt;                                  &lt;/span&gt;: Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Pendidikan terakhir&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: S2 STSI Surakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Alamat Domisili&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;: Jln. Bintungan Panyalaian No.83 Kec. X Koto Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;e-mail&lt;span style=""&gt;                                   &lt;/span&gt;: Yusri2001@yahoo.com&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;HP&lt;span style=""&gt;                                          &lt;/span&gt;: 08197143131&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;2. Pendidikan Formal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2003-2006, STSI Surakarta, Penciptaan Seni, Jurusan Film&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1988-1993, Fakultas Sastera Universitas Andalalas Sumatera Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1985-1988, SMA Negeri I Payakumbuh-Sumatera Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1983-1985, SMP Negeri I Payakumbuh Sumatera Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1979-1983, SDN I Payakumbuh Sumatera Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;3. Pengalaman Organisasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2008-2011, Ketua I Bidang Program Dewan Kesenian Sumatera Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2007-Sekarang, Koordinator Federasi Teater Indonesia Wilayah Sumatera&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2000-2004, Menjadi Komite Tetaer Dewan Kesenian Sumatera Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1998-2004, Ketua Komunitas Seni Hitam-Putih Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1998, Pembimbing Pers Laga-Laga Mahasiswa STSI Padangpanjang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1994-1998, Mendirikan Teater Plus INS Kayutanam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1992-1993, Divisi Pagelaran KPDTI Universitas Andalas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1991-1992, Ketua Teater Langkah Universitas Andalas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1990-1993, Ketua Teater SEMA Universitas Andalas &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1990 Mendirikan Komunits Seni INTRO Payakumbuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1989, Bergabung dengan BUMI Teater Sumatera Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1989,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Salah Satu Pendiri Kelompok Penulisan &lt;i style=""&gt;“Dangau Seni Rell”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Data Pengalaman sebagai Sutradara Teater&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2006-2008, Sutradara dalam garapan ‘Tak Ada Sabtu Sabtu Sampai Minggu, Hanya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                     &lt;/span&gt;Siang dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Malam’ Karya Rozakky, Pentas di Batam, Jakarta, Padang, Payakumbuh,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Dan STSI Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2008, Karya dan Sutradara dalam garapan TANGGA, pentas dalam kegiatan FKI Bali,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Padang, dan STSI Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2005, Sutradara dalam garapan AKSIOMA KARYA Topan S. Chandra, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;pentas dalam kegiatan JaksArt pentas di Jakarta, Yogyakarta, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                     &lt;/span&gt;Bandung, Jember, Kediri, Kudus, Semarang, Malang, Jepara, Surabaya dan Bali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2005, Sutradara dalam garapan KOLABARASI bersama Agus Joli di TIM Jakarta&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2005, Sutradara dalam garapan PENGANTIN DARAH karya Slamet Widodo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;pentas di Komunitas Kebun Nanas Jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2002, Karya dan Sutradara dalam garapan PINTU, pentas dalam kegiatan Pentas Seni II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                               &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;DKSB dan Indo Jati di Padang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2001, Karya dan Sutradara dalam garapan MEMANCING DI AIR KERUH,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;pentas dalam kegiatan FKI II di Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2001, Karya dan Sutradara dalam garapan MEMANCING DI AIR KERUH,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                         &lt;/span&gt;pentas dalam kegiatan FKI II di Padangpanjang\&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2000, Karya dan Sutradara dalam garapan CINDUA MATO,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pentas dalam kegiatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;FKI I di Yogyakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2000, Karya dan Sutradara dalam garapan WELCOME TO MILLENIUM,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pentas DO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;STSI Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1999, Karya dan Sutradara dalam garapan PLASENTA, pentas dalam kegiatan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;Feksiminas di STSI Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1999, Karya dan Sutradara dalam garapan TOPENG, pentas Di Bengkulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1999 s/d 2000 , Karya dan Sutradara dalam garapan MENUNGGU,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;pentas DI Padang, Pekanbaru, Jambi, Jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1998, Karya dan Sutradara dalam garapan Kronis,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pentas di Bengkulu dan Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1998 , Karya dan Sutradara dalam garapan RAKER ,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pentas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di padangpanjang dan Padang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1998 , Karya dan Sutradara dalam kolaborasi INDONESIA DARAHKU TUMPAH,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pentas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Pasar Payakumbuh &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1997, Karya dan Sutradara dalam garapan INTERNE,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pentas dalam kegiatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;INS Kayutanam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1997, Karya dan Sutradara dalam garapan WANTED&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pentas di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;INS Kayutanam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1996 , Karya dan Sutradara dalam garapan SEMBILU DARAH,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pentas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Universitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Bung Hatta Padang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1995, Karya dan Sutradara dalam Kolaborasi bersama Beri Bernhard judul GERAK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;MUSIK ALAMI pentas di Taman Budaya Padang dan INS Kayutanam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1995 s/d 2001 Karya dan Sutradara dalam garapan HAMBA-HAMBA,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;pentas DI INS Kayutanam, Padang, Pekanbaru, Bengkulu dan STSI padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1995, Sutradara dalam garapan RING karya Wisran Hadi, pentas di&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;INS Kayutanam,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1995, Sutradara dalam garapan PERGURUAN karya Wisran Hadi, pentas di&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;TIM Jakarta &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1990 s/d 1993, Sutradara dalam garapan OBT karya Wisran Hadi, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;pentas di&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;INS Kayutanam, Padang, Bengkulu, Jambi, Pekanbaru dan jambore&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Teater Nasional Cibubur&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;5. Data Pengalaman sebagai Aktor Teater&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2007, Aktor dalam garapan &lt;i style=""&gt;“Hanya Satu Kali”&lt;/i&gt; karya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;John galsworthy, Sutradara &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Afrizal Harun, pentas di STSI Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2005, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Aktor dalam garapan &lt;i style=""&gt;“ Pengembara Dari Sorga”&lt;/i&gt; karya/Sutradara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                       &lt;/span&gt;Yose Rizal Manua, pentas di TIM jakarta dan Bentara Budaya Jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2000, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Aktor dalam garapan &lt;i style=""&gt;“ Di Ujung Tanduk”&lt;/i&gt; karya Deni Marjunis /Sutradara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;Yusril, Pentas di Unand, SMKI dan STSI Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 1990, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Aktor dalam garapan &lt;i style=""&gt;“ Anggun Nan Tongga”&lt;/i&gt; karya/Sutradara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Wisran Hadi, pentas di TIM jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 1989, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Aktor dalam garapan &lt;i style=""&gt;“ Jalan Lurus”&lt;/i&gt; karya/Sutradara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Wisran Hadi, pentas di TIM jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Dari tahun 1989-tahun 2006, membacakan puisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di berbagai kota di Indonesia seperti; Padang, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                         &lt;/span&gt;Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, palembang, Jakarta, Malaka,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                                               &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Kuala Lumpur. Dan menjadi Juara Penulisan Puisi tingkat nasional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                             &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Di Aceh, Medan, dan kota Malang. Puisi-puisi ini di muat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Dalam bentuk buku Antologi Puisi Sumatera Barat, Indonesia dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Malaysia. Disamping itu, sering menjadi pembicara, pemateri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Workshop untuk bidang teater dan film&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;6. Pengalaman Kerja Menjadi Scenografer Produksi Teater dan tari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2008, menjadi skenografer dalam karya Randai Kreasi ‘Lenggang Dunia’ Sutradara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                     &lt;/span&gt;Zulkifli Pentas di Taman Budaya Sumatera Barat&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2008, menjadi skenografer dalam karya Teater ‘Zona X’ Karya Afrizal Haroen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Pentas dalam PAT III dan Taman Budaya Sumatera Barat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2008, menjadi skenografer dalam karya tari kolosal ‘Jalan Menuju Taqwa’ koreografer &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;Lora vianti pada pembukaan Festival Serambi Mekkah Padangpanjang&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2008, menjadi skenografer dalam karya tari ‘Jamuran’ koreografer Ali Sukri dipentaskan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Taman Budaya Surakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2007, menjadi skenografer dalam karya Teater ‘Hikayat Cantoi’ Sutradara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;Sulaiman Juned, Pentas di STSI padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2007, menjadi skenografer dalam karya Teater ‘Cindua Mato’ Sutradara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;Yarlesvita, Pentas di STSI padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2006-2007, menjadi skenografer dalam karya Teater ‘Ditunggu Dogot’&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                 &lt;/span&gt;Sutradara Kurniasih Zaitun, dipentaskan di Pekan Baru, Padangpanjang, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                 &lt;/span&gt;Padang, TIM Jakarta,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bandung, Yogyakarta, Solo, dan Bali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2007, menjadi skenografer dalam karya tari ‘membaca’ koreografer Wira Mustika &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Pentas dalam event WSDF dan Gelanggang Tari Sumatera Padang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2007, menjadi skenografer dalam karya tari ‘Kamar’ koreografer Ali Sukri dipentaskan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Dalam event WSDF di STSI Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2007, menjadi skenografer dalam karya tari ‘Garik Padusi’ koreografer &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;Susasrita Loravianti, pentas di Padang, Padangpanjang, Hongkong&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2006-2007 menjadi skenografer dalam karya tari ‘Meja Kursi dan segelas Juice&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;Yang tumpah’ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;koreografer Susasrita Loravianti dipentaskan di padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Dan Padang&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2006, menjadi skenografer dalam karya Teater ‘Dunia Mesin Jahit’ Sutradara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;Afrizal Haroen dipentaskan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pusat Bahasa Jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2005, menjadi skenografer dalam karya tari ‘Masihkah ada Tempat berteduh’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;Koreografer Ninon Sofia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dipentaskan di Padang dan Padangpanjang&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2005, menjadi skenografer dalam karya tari ‘Kamar’ koreografer Ali Sukri dipentaskan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;IDF TIM Jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2005, menjadi skenografer dalam karya tari ‘Batu’ dan Pengantin Ombak koreografer Ali &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Sukri dalam event Festival Seni Surabaya dan TUK jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2005, menjadi skenografer dalam karya Teater ‘Bung Hatta’ Sutradara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;Zulkifli, Pentas di Gedung TRI ARGA Bukittinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2005, menjadi skenografer dalam karya tari ‘Minyak’ koreografer Dina Rambo &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;dipentaskan di Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2005, menjadi Scenografer dalam Karya Tari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;‘Kronis’&lt;/i&gt; Koreografer Ijot Goblin, dipentaskan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Dalam event Pentas seni V DKSB di Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2004, menjadi skenografer dalam karya tari ‘Tapi-tapian’ koreografer Ninon Sofia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;dipentaskan dalam event Festival Pesisir DKSB&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2004, menjadi Scenografer dalam Karya Tari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;‘Kaca’&lt;/i&gt; Koreografer Ali Sukri, dipentaskan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Dalam event The Nexts tresise di TIM jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2004, menjadi Scenografer dalam Karya Tari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;‘Thampomas’&lt;/i&gt; Koreografer Dia Asep, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Pentas di Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2004, menjadi Scenografer dalam Karya Tari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;‘Ibunda’&lt;/i&gt; Koreografer Syaiful Erman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;dipentaskan di Taman Budaya Sumatera Barat dan STSI Padangpanajng&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2003, menjadi skenografer dalam karya Teater ‘Cindua Mato’ Sutradara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;Zulkifli pentas dalam event Festival Pagaryung di Batusangkar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahun 2003, menjadi skenografer dalam karya Teater ‘Srintil’ Koregrafer Nora &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                     &lt;/span&gt;pentas di Padangpanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2002, menjadi Scenografer dalam Karya Tari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;‘Babu’&lt;/i&gt; Koreografer Ijot Goblin, dipentaskan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Dalam event Pentas Seni DKSB&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tahun 2002, menjadi Scenografer dalam Karya Tari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;‘Dulang’&lt;/i&gt; Koreografer Syaiful Erman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                     &lt;/span&gt;dipentaskan dalam even Gelanggang Sumatera Taman Budaya Sumatera Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-4578547780776083837?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/4578547780776083837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=4578547780776083837' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/4578547780776083837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/4578547780776083837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2008/11/curriculum-vitae-cv.html' title='CURRICULUM VITAE (CV)'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-5630716009586470887</id><published>2008-11-23T09:56:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T09:58:16.507-08:00</updated><title type='text'>TANGGA: DEMOKRASI APAKAH?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Oleh: Sahrul N&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dengarlah, kusampaikan padamu sebaris kisah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;di sebuah gunung merapi yang dulu sebesar telur itik, lama setelahnya, dari dua lelaki seibu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;berbeda ayah lahirlah sistem bernama laras&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dua lelaki yang berbeda pikiran, orang menyebutnya koto piliang dan bodi caniago&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;berjenjang naik, bertangga turun dan duduk sehamparan, tegak sepematang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;bagai lukisan perdamaian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dialog demokrasi tak bernama inilah yang diusung dalam pementasan teater yang berjudul “Tangga” sutradara Yusril dari Komunitas Seni Hitam Putih Padangpanjang Sumatra Barat. Pementasan yang berdurasi sekitar satu jam ini ditampilkan di STSI Padangpanjang tanggal 21 Juli 2007 dan di Taman Budaya Sumatra Barat pada tanggal 27 Juli 2007. Karya seni teater ini terinspirasi dari dua karya sebelumnya yaitu puisi “Tangga” karya Iyut Fitra dan naskah drama “Jenjang” karya Prel T.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berjenjang naik, bertangga turun&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;, merupakan sistem pemerintahan di Minangkabau yang dicanangkan oleh Datuk Katumanggungan atau yang lebih dikenal dengan kelarasan Koto Piliang. Sistem ini memakai pola &lt;i style=""&gt;top down&lt;/i&gt; atau segala sesuatunya ditentukan oleh pemimpin kekuasaan. Seperti dialgog “&lt;i style=""&gt;hitam kataku hitam, putih kataku putih&lt;/i&gt;”. Suau keputusan yang tidak lagi bisa diganggu gugat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berbeda halnya dengan kata-kata &lt;i style=""&gt;Duduk sehamparan, tegak sepematang&lt;/i&gt;, yang merupakan kata-kata dalam sistem pemerintahan di Minangkabau yang dicanangkan oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang atau yang lebih dikenal dengan kelarasan Bodi Caniago. Sistem ini memakai pola segala sesuatunya ditentukan oleh musyawarah dan mufakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kedua sistem ini tumbuh dan berjalan dalam waktu yang sama dari dulu sampai sekarang. Masyarakat Minangkabau tidak mempersoalkan perbedaan diantara keduanya, tetapi mengkolaborasikan keduanya atau berjalan beriringan dan saling membantu. Dua sistem yang bertolak belakang namun saling membantu menimbulkan pertanyaan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;demokrasi apakah yang yakini oleh masyarakat Minangkabau?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kolaborasi sistem pemerintahan ini diwujudkan dalam bentuk teater kontemporer dengan konsep akting distorsi dimana tubuh tidak lagi menjadi tubuh yang sebenarnya. Tubuh aktor adalah tubuh tanpa jenis kelamin, dia bisa menjadi tubuh sosial, tubuh budaya, tubuh akrobatik, tubuh tak terhingga dan tubuh ikonitas. Tubuh ini menciptakan ruang makna yang beragam dalam diri masing-masing aktor. Keinginan untuk setiap bagian tubuh bicara banyak makna merupakan hal yang sangat menentukan. Namun sayang, dialog puitis yang menjadi arah peristiwa kadang-kadang diucapkan oleh aktor tanpa tendensi makna, sehingga kata tersebut berlalu begitu saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lewat bantuan properti tangga yang jumlahnya sebanyak jumlah aktor (delapan), pencarian ekspresi tidak dalam bentuk datar namun meruang ke segala arah. Lantai pentas bisa ada dimana-mana, tidak hanya horizontal namun juga vertikal. Properti dari kayu ini menciptakan ruang makna yang tak terhingga dan diekplorasi sedemikian rupa menjadi ikon-ikon yang menupang ikon-ikon tubuh aktor. Tangga bisa menjadi pentas itu sendiri, bisa juga menjadi penjara, menara, pembatas, jembatan, beban, keranda, dan sebagainya. Akan tetapi pencarian eksplorasi properti ini pada bagian-bagian tertentu bisa menjadi verbal dan tanpa ikonitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Begitu juga dengan peristiwa yang diambil dari mitos Minangkabau ini hanya sebagai alat untuk mengungkap sesuatu yang lebih universal. Peristiwa demokrasi tanpa judul ini diaktualisakan dengan demokrasi secara menyeluruh yang ada di bumi ini. Peristiwa perang dengan segala akibatnya dan penjajahan peradaban oleh negara maju terhadap negara berkembang dan terbelakang, menjadi sorotan kemanusiaan karya ini. Bisa dilihat dalam dialog “&lt;i style=""&gt;di timur matahari akan terbit&lt;/i&gt;” bisa menjadi indikasi bahwa ada perlawanan keras terhadap hegemoni barat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ikon-ikon Minangkabau menjadi referensi penting dalam pertunjukan ini. Gerakan silat, bahasa, &lt;i style=""&gt;carano&lt;/i&gt; (tempat sirih) dan lain-lain dalam seluruh peristiwa adalah ikatan tematik yang coba dipertahankan oleh sutradara dalam rangka memadukan struktur. Boleh saja bicara lokal, namun makna yang ingin disampaikan tidak lagi lokal. Hal ini merupakan upaya untuk pencarian makna yang melampaui realitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pembesaran makna dari peristiwa mitologi Minangkabau ini, kadangkala membuyarkan identitas persoalan yang sebenarnya. Klip-klip peristiwa memang diusahakan semaksimal mungkin memiliki hubungan struktur yang padu, akan tetapi sering pula terputus. Atau memang ini yang diinginkan Yusril? Sesuatu yang seluruhnya distorsi?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sahrul N., S.S., M.Si., adalah dosen Jurusan Teater STSI Padangpanjang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-5630716009586470887?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/5630716009586470887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=5630716009586470887' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/5630716009586470887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/5630716009586470887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2008/11/tangga-demokrasi-apakah.html' title='TANGGA: DEMOKRASI APAKAH?'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1638290841102758109.post-268489447068155593</id><published>2008-11-23T09:39:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T09:41:49.298-08:00</updated><title type='text'>tentang komunitas</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bermula di Institut Nasional Syafe’i (INS) Kayutanam pada tahun 1993 dengan nama kelompok yaitu &lt;i style=""&gt;Teater Plus&lt;/i&gt; INS Kayutanam. Pendidikan di INS Kayutanam, disamping belajar intrakurikuler, siswa juga diajarkan tentang Minat dan Bakat yang disebut kegiatan ekstrakurikuler termasuk di dalamnya teater. &lt;i style=""&gt;Teater Plus&lt;/i&gt; yang menjadi embrio &lt;i style=""&gt;komunitas seni&lt;/i&gt; HITAM-PUTIH pimpinan Yusril, kemudian hadir dalam percaturan dan dinamika teater di Sumatera bahkan nasional melalui pertunjukan teater seperti &lt;i style=""&gt;Perguruan &lt;/i&gt;tahun 1995 di TIM Jakarta, &lt;i style=""&gt;Ring &lt;/i&gt;1996 di taman Budaya Padang, &lt;i style=""&gt;Interne &lt;/i&gt;di taman Budaya Bengkulu 1996, &lt;i style=""&gt;Menunggu &lt;/i&gt;dalam event Temu Sasterawan Nusantra ke IX dan temu teater Indonesia di Pekan Baru, &lt;i style=""&gt;Hamba-Hamba&lt;/i&gt; dalam event yang sama sasterwan Nusantara ke IX.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah beberapa orang siswa yang sudah tamat dari INS Kayutanam yaitu Wendi H.S, Pandu Birowo, Willi Aditya, Afrizal Harun, Kurniasih Zaitun, Nolly Andrianus, Saaduddin dan lain-lain (generasi angkatan 1993,1994,1995). Mulai gelisah dengan status Teater Plus INS Kayutanan yang notabene adalah teater siswa yang berada di dalam kampus. Dari beberapa kawan-kawan ini kemudian mengajak Pak Yusril untuk membuat sebuah kelompok teater yang tidak lagi berada di dalam s&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;stem kampus INS Kayutanam. Pada waktu itu, terlintas dalam pikiran Pak Yusril tentang seragam yang dipakai oleh siswa dan bendera kampus INS Kayutanam. Maka, ia berkesimpulan bagaimana nama kelompok ini adalah &lt;i style=""&gt;komunitas seni&lt;/i&gt; HITAM-PUTIH. Kawan-kawan yang hadir ketika itu sangat sepakat dan mendukung hadirya komunitas baru ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada tanggal 5 September 1998, Teater Plus INS kayu Tanam berubah nama menjadi &lt;i style=""&gt;komunitas seni&lt;/i&gt; HITAM-PUTIH. Ketika persiapan pentas &lt;i style=""&gt;Menunggu&lt;/i&gt; di Taman Budaya Jambi. Semenjak itu, &lt;i style=""&gt;komunitas seni&lt;/i&gt; HITAM-PUTIH, dikukuhkan sebagai salah satu kelompok independen yang bergerak dalam dunia teater di Sumatera Barat dengan motto yang menjadi komitmen komunitas yaitu : &lt;i style=""&gt;Sebuah keinginan untuk berjelas-jelas Untuk tidak menghitamkan yang putih Dan memutihkan yang hitam.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semenjak tahun 1998 sampai dengan sekarang, &lt;i style=""&gt;komunitas seni&lt;/i&gt; HITAM-PUTIH hadir dalam setiap event lokal maupun nasional, seperti Pentas Monolog Dewan Kesenian Jakarta, Pentas teater dalam event Pusat Bahasa Jakarta, Pentas Seni Dewan Kesenian Sumatera Barat, Jakarta Art Festival (JakArt), Pekan Apresiasi Teater (PAT), Hibah Seni karya Inovatif Yayasan Kelola Jakarta, program mandiri dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun 2003, merupakan awal &lt;i style=""&gt;komunitas seni&lt;/i&gt; HITAM-PUTIH melakukan kerja sama dalam pemutaran film dengan pihak &lt;i style=""&gt;Jiffest &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;sreenDoc!&lt;/i&gt; Traveling. Dua kelompok ini telah mempercayakan kepada &lt;i style=""&gt;komunitas seni&lt;/i&gt; HITAM-PUTIH sebagai &lt;i style=""&gt;Local Partner&lt;/i&gt; dalam setiap pelaksanaan pemutaran film dari tahun 2003. Semenjak konsentrasi &lt;i style=""&gt;komunitas seni&lt;/i&gt; HITAM-PUTIH bergerak dalam dua program yaitu teater dan film. Maka &lt;i style=""&gt;komunitas seni&lt;/i&gt; HITAM-PUTIH Hadir sebagai &lt;i style=""&gt;theatre and film community&lt;/i&gt; (komunitas yang bergerak dalam dunia teater dan film) di Sumatera Barat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1638290841102758109-268489447068155593?l=yusrilteater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusrilteater.blogspot.com/feeds/268489447068155593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1638290841102758109&amp;postID=268489447068155593' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/268489447068155593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1638290841102758109/posts/default/268489447068155593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusrilteater.blogspot.com/2008/11/tentang-komunitas.html' title='tentang komunitas'/><author><name>yusrilteater</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03432073699563517611</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_O0o_q2BN_zk/SYXDQZC6jOI/AAAAAAAAADA/NT12Fqn6rrg/S220/datuak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
